Selasa, 03 Maret 2015

Sepotong cinta tak terucap.

Semua ini dimulai waktu pertengahan bulan agustus 2009, disebuah sekolah yang terletak dipinggiran kota Tuban jawa timur, ada seikat persahabatan yang terjalin antara 5 orang yang semuanya aneh-aneh, pertemanan aneh yang beranggotakan Iman, Fira, Bayu, Dhiya dan pras ini sudah terjalin cukup lama, sekitar dua tahun lebih, pertemuan sederhana yang tak disangka akan menjadi sebuah kisah persahabatan yang indah ini pun terjadi diantara mereka,.
Waktu itu pada jam istirahat kedua, seusai sholat dhuhur, mereka terbiasa bercerita tentang hal-hal yang mungkin menurut orang lain itu tak terlalu penting untuk dibicarakan, tapi Masa Bodo! Mereka tak pernah peduli, hingga suatu saat ada sedikit perbedaan dalam pembicaraan mereka yang dibuka oleh Iman,
“eh, masa kita kaya gini-gini aja sih” ucap si Iman
“maksudnya gini-gini aja” tanya Fira   “ya gini-gini aja” jawab Iman
“ah Iman nih, kalo ngomong yg jelas kek” gertak Dhiya penasaran
“lagian, udah tau Iman orangnya suka jail masih aja ditanggepin, ujung-ujungnya juga dikerjain doang loe semua” ucap bayu enteng,
“sembarangan, kali ini gue serius” sahut Iman dengan gaya sok serius
“apanya yang serius ngomong aja ga jelas, yg jelas dong biar gampang dipahami,” papar Pras
“tau nih” serentak Dhiya dan Fira
“Oke-oke, maksud gue itu apa kalian ga bosen, bertemen kaya gini-gini aja, kalian ga ada niatan buat emm..  anu.. emm.. itu loh,.” Jawab Iman dengan nada bicaranya yang agak gugup sambil malu-malu
“kan, kan, mulai ga jelasnya kambuh tuh” sahut Fira sebal
“bukannya gitu, Cuma gini loh, kita kan udah mau kelas 3 SMA dan ini tuh udah waktunya banget buat itu, tapi masa iya yang lainnya udah pada gitu, kita sendiri yang belum, kan ga asik” papar Iman
“yang gitu itu apa Iman,!!” gertak Dhiya & Fira
“eh, dari pada pake kode-kodean mending loe ga usah ngomong deh man, bikin kepo orang aja” jawab Pras jutek
“sekali lagi loe ngomong ga jelas, gua kepret juga loe!” ringkas Bayu sebal
“ eh, loe semua kan udah gede, masa masih pada ga tau maksud gue sih” jawab iman sambil agak cemberut karna maksud omongannya tidak ada satu pun yang dipahami oleh teman-temannya
“ya terus apa man,?” tanya Fira
“itu loh fir, Pacaran.” jawab Iman dengan mengecilkan volume suaranya,
Suasana pun jadi hening sejenak, kemudian,...
“Hwahahahahahahahahahh,!!” Mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari pertanyaan Iman, yang dari tadi memusingkan kepala mereka semua
“ya Allah Iman, Iman, loe ada-ada aja sih” ucap Dhiya dengan setengah tertawa
“eh man, loe udah bilang pacar-pacaran, emangnya ada yang mau sama loe?” sahut Bayu sambil setengah tertawa juga
“Iya juga sih, siapa ya yang mau pacaran sama gue, gue juga belum mikir sampai sejauh itu,” jawab Iman sambil senyum dan menggaruk-garuk kepalanya
Jawaban dan ekspresi Iman yang menjawab pertanyaan itu dengan sangat lucu, sontak membuat tawa mereka makin pecah, dan dari pertanyaan yang asal nyeletuk dari Iman itulah yang lama kelamaan membuat mereka satu persatu menyadari kalau mereka memang membutuhkan seorang yang lebih dari sekedar hubungan teman, lebih dari sekedar hubungan sahabat, mereka butuh seseorang yang dapat berbagi  rasa kasih sayang atau yang lebih umumnya seperi yang dibilang iman “kita udah waktunya untuk pacaran”
Dan orang pertama yang mendapatkan pacar diantara mereka berlima adalah Iman, iya Iman, mereka berlima pun cukup terkejut, berlima? Iya berlima, bahkan Iman sendiri pun terkejut dan tak percaya bahwa dialah yang menjadi orang pertama dari mereka berlima yang merasakan cinta untuk yang pertama kali, dengan terjadinya hal tersebut Pras, Fira & Dhiya pun makin jadi-jadinya menggoda Iman dikelas,
“Ciee yang udah pacaran, percaya deh Hpnya dipegang terus” goda Fira
“ah, Fir loe apaan sih, udah-udah” jawab Iman dengan mukanya yang memerah
“Ciiee yang udah jadian sama si Anu Pjnya mana nih, katanya temen?” goda Pras
“Anu-anu dia punya nama, namanya Vina terus apalagi tuh PJ-PJ gua ga tau” jawab Iman ketus
“jangan ngambek dong, masa orang yang lagi jatuh cinta mukanya asem banget gitu, ya nggak?” sahut Dhiya
“PJ itu pajak jadian O’ong masa loe udah jadian nggak tau singkatan PJ sih, dasar kuper!” goda Pras
“Ohh, PJ itu pajak jadian, ngobrol dong, kan kalo gini gue paham jadinya hehehh,” jawab Iman enteng
“eh, ngomong-ngomong Bayu mana kok ga ikutan ngumpul kaya biasanya sih,” tanya Fira
“tadi gue telfon kerumahnya, kata ibunya dia lagi sakit demam gitu” jawab Pras
“eh, jengukin yuk entar pulang sekolah, kasian nih gue,” ucap Dhiya
“iya, gue juga kasian, berarti entar pulang sekolah kita jengukin Bayu bareng-bareng ya” sahut Fira
“Oke deh,” jawab Pras singkat
“Tapii,” sahut Iman dengan nada ragu-ragu
“tapi apaan man?” tanya Dhiya
“tapi gue udah ada janji sama Vina, gue janji bakalan nonton bareng sama dia, jadi gue ga ikutan gak papa ya,” jawab Iman dengan ekspresi muka yang biasa saja
          Jawaban Iman yang enteng serta tanpa rasa bersalah karna tidak datang menjenguk Bayu bersama mereka itu sangat membuat Dhiya, Fira dan Pras jengkel, karna mereka pikir Iman jauh lebih mementingkan nonton bareng Vina yang sangat tidak penting dari pada menjenguk Sahabatnya sendiri yang sedang sakit,
“Oh, jadi sekarang kita dinomer duakan sama loe man?” tanya Dhiya Sinis
“E-enggak gitu, t-tapi” jawab Iman sambil agak gagap
“tapi apa?, udah jelas-jelas loe lebih mentingkan Vina dari pada Bayu, eh Man, loe inget dong, siapa dulu yang paling heboh waktu loe sakit, Bayu kan? Dan sekarang loe lebih mentingin orang lain dari pada Bayu?” papar Pras dengan nada suara yang agak ditinggikan
“Udah-udah Pras, Dhi, cukup kita bertiga aja yang jenguk Bayu, Iman mungkin bakalan jenguk Bayu sendiri lain waktu, ya kan man?” sahut Fira dengan menahan amarahnya ke Iman
“I-iya Fir,” jawab Iman singkat
          Bel pulang pun berbunyi, tanda kalau sekolah hari ini telah berakhir, Fira, Dhiya dan Pras pun mulai mengendarai sepeda Ontel mereka masing-masing, beranjak pergi dari sekolah menuju kerumah Bayu untuk menjenguknya. Dalam perjalanan menuju kerumah Bayu, Fira dan Dhiya berhenti sejenak di toko buah untuk membeli buah kesukaan Bayu, yaitu rambutan, dan Fira-lah yang paling mengetahui semua buah kesukaan dari masing-masing sahabatnya itu, mulai dari Bayu yang suka dengan rambutan Dhiya yang suka dengan Anggur, Iman yang suka dengan semangka, dan terakhir Pras, Pras sangat suka dengan mangga, Setelah selesai membeli rambutan untuk Bayu, mereka pun bergegas ke rumah Bayu yang letaknya tak jauh dari toko buah tadi,
“Hai Bay, gimana keadaan loe udah mendingan kan?” tanya Dhiya
“udah lumayan kok dari pada kemaren,” jawab Bayu lemas
“gimana kata dokter, loe sakit apa?” tanya Fira
“ga papa kok, Cuma kecapean aja, gue disuruh banyak istirahat.” Jawab Bayu
“cepet sembuh ya Bro, ga ada yang ngajakin berantem, sepi juga kelas,” goda Pras
“hahahh, bisa-bisanya loe ya, gue sakit gini bukannya dikasih motivasi apa kek biar sembuh, malah digitu’in” jawab Bayu dengan tawa kecil dibibirnya
“lah, kan tadi juga udah termasuk motivasi juga Bay, biar loe cepet sembuh, terus bisa ngajakin gue sama Iman berantem kaya biasanya,” sahut Pras menggoda Bayu
“hahahh, iya ya, eh tapi Iman mana kok ga bareng kalian kesini?” tanya Bayu
“emm ini, Iman disuruh Ibunya langsung pulang, katanya sih mau ada acara keluarga gitu sore ini, jadi ga bisa ikut kita jengukin loe deh, tapi tadi dia udah bilang ke kita kok kalo udah selesai dia bakalan langsung jengukin loe,” sahut Fira dengan mata yang lari kekanan dan kekiri
“Loh, bukannya iman tadi,” jawab Dhiya yang langsung disahut oleh Pras
“Aa iya, dia ada acara dirumahnya jadi ga bisa ikut, tapi dia keliatan nyesel gitu Bay ga bisa ikut kita jengukin loe” sahut Pras
“he’em gitu” sahut Fira singkat
“Hahahh, Iman, Iman gitu aja nyesel, gue justru bakalan lebih nyesel lagi kalo sampai dia ga ikut acara dirumahnya Cuma gara-gara jengukin gue” jawab Bayu enteng
          Seminggu selepas mereka menjenguk Bayu pun tiba, pagi itu indah dan damai, pagi itu Fira sedang membaca novel kesukaannya untuk yang ke-10 kalinya sambil mendengarkan lagu kesukaannya Ariana Grande-Daydreamin’  dan pagi yang indah dan damai itupun dirusak oleh suara nyaring Dhiya dari luar kelas yang berteriak-teriak tidak jelas memanggil nama Fira sambil memegang Handphonenya, dan ternyata Dhiya menceritakan kalau dia akhirnya menyusul jejak Iman, Dhiya memiliki seorang Pacar, dan yang lebih mengejutkan Fira adalah pacar Dhiya, pacar Dhiya adalah Bayu
“Hah, Bayu! gimana ceritanya loe bisa jadian sama Bayu Dhi?” tanya Fira penasaran
“ga tau, gue malu mau ngomong sama loe Fir, pokonya itu waktu Bayu lagi sakit gue ga bisa tidur gue mikirin dia terus, gue ga bisa nahan, akhirnya gue sms’in deh Bayu, lah tapi sampai Bayu sembuh gue sama Bayu masih terus sms’an terus semalem Bayu nembak gue Fir, gue kaget banget jantung gue dag dig dug ga jelas, terus pagi tadi Bayu nanya lagi jawaban gue apa,” papar Dhiya dengan mukanya yang kemerahan karena malu
“terus jawaban loe apa?” tanya Fira
“gue jawab Iya Fir,” jawab Dhiya singkat dengan muka yang masih kemerahan
“emm gitu,” ucap Fira enteng
“yailah Fir, gue udah ngomong panjang lebar dan loe Cuma jawab dengan emm gitu doang,” jawab Dhiya sebal
“Hahahh, enggak-enggak, gue Cuma becanda doang Dhiya sayang, selamet ya atas jadinya loe sama Bayu gue seneng banget kok, kan loe sama Bayu temen gue, jadi kalo loe berdua seneng, ga ada alasan buat gue untuk ga ikut seneng bareng kalian,” papar Fira
           Bulan pun berganti, siang itu Pras, Bayu & iman sedang istirahat setelah bermain sepak bola dilapangan sekolah, siang itu sinar matahari cukup terik hingga membuat mereka betiga berkeringat cukup banyak hanya dengan bermain 10 menit saja. Ketika mereka sedang istirahat, waktu itu tepat ketika Fira dan Dhiya keluar dari perpustakaan. Pras, yang memang sejak lama memiliki perasaan yang lebih kepada Fira, memperhatikan gadis manis itu keluar dari perpustakaan bersama Dhiya, Pras memperhatikan Fira mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, Pras suka segala sesuatu tentang Fira, dan yang paling disukai Pras dari dalam diri Fira adalah ketika Fira tertawa. Pras sangat suka cara Fira tertawa, menurutnya itu membuat Fira tampak lebih manis dan Pras akan tersenyum secara otomatis saat Fira tertawa seakan ada kabel yang menghubungkan senyuman Fira ke bibir Pras. J Lamunan  Pras tentang Fira pun pecah karna teriakan Bayu yang memanggil nama Pras tepat ditelinga Pras
“PRRAAASSSS!!” teriak Bayu tepat ditelinga Pras
“Wooy!!! Santai kek! Sakit nih telinga gue!” gertak Pras sambil meniupkan udara digenggaman tangannya kemudian ditaruhnya ke telinganya
“lagian, loe tuh ngelamunin apaan sih, gue panggil sampe 5 kali ga ada respon. Ya, terpaksa gue ngelakuin tindakan darurat” jawab Bayu sambil memamerkan senyum tengilnya
“Hah, 5 kali,! yang bener loe, kok gue bisa ga denger ya,” singkat Pras dengan nada heran ke dirinya sendiri
“kalo gue liat dari kelakuan loe sih, kayaknya loe lagi suka sama orang deh Pras” sahut Iman dengan nada sok tau
“Ah, sok tau loe, gak-gak gue ga lagi suka sama orang kok, lagian gue lagi fokus belajar biar cita-cita gue buat jadi pengusaha sukses bisa gue capai” jelas Pras dengan nada yang agak gagap diawal
“Amiinnn” sahut Bayu dan Iman, mendukung cita-cita sahabatnya itu
          Dan ditengah-tengah perbincangan Iman, Pras dan Bayu ada dua orang adik kelas perempuan mereka datang menghampiri Pras dan salah satu diantara mereka memberika coklat kesukaan Pras kepada Pras.
“Kak Pras?” sapa Nia, salah satu adik kelas Pras yang memang terlihat jelas kalau dia memiliki perasaan pada Pras
“iya” jawab Pras singkat
“aku punya ini buat kakak, ini coklat kesukaan kakak” jelas Nia sambil menyerahkan sebuah kotak ke Pras
Pras menghela nafas kemudian berkata,.
“Dek, maaf, aku ga bisa terima” jawab Pras singkat
“tapi kak,” sela Nia
“dari pada kamu makai uang kamu buat beli sesuatu kaya gini buat orang lain, mending kamu tabung uang kamu buat keperluan kamu sendiri,” ucap Pras
Nia hanya menunduk tanpa mengucapkan apapun,
          Nia memang bukan adik kelas pertama yang memberikan hal-hal seperti itu pada Pras, memang dilihat dari segi fisik, Pras memiliki tampang yang menarik dan dilihat dari segi sifat Pras termasuk pribadi yang ramah dan pandai bergaul jadi tak sedikit adik kelas maupun teman sekelas yang tertarik dengannya, mulut ceriwis Dhiya pun memberikan kabar tentang Pras ke Fira, dan seperti biasa Fira hanya mengomentarinya dengan berkata “emm, gitu” dengan sedikit sumringan kecil dibibirnya, Fira memang selalu seperti itu jika mendapat kabar tentang Pras yang mendapat kado-kado dari orang yang menyukainya, Fira hanya akan mengambil buku novel atau apapun yang ada didepannya untuk menutupi rasa cemburunya, Cemburu? Ya, Fira cemburu jika ada siapapun wanita yang mendekati Pras, Posesif? Ya, Fira mungkin termasuk wanita yang posesif karna dia selalu beranggapan seorang wanita dan pria tidak bisa berteman terlalu dekat, kenapa tidak? Karna menurut Fira jika ada seorang wanita berteman terlalu dekat dengan pria maka salah satu diantara mereka pasti merasakan rasa nyaman, rasa ingin menjaga dan takut kehilangan dan lama-kelamaan rasa cintapun mulai tumbuh dari salah satu diantara mereka maupun keduanya, dan Fira sedang berada dalam posisi tersebut dia merasakan rasa nyaman dengan Pras, dia takut kehilangan Pras, dan lama-kelamaan tanpa disadari Fira telah jatuh hati pada Pras.
          Berulang kali Fira ingin menyangkal rasa cintanya pada Pras mulai dengan fokus membaca 3 buku tebal dalam sehari dan mengerjakan puluhan soal-soal matematika hingga cukup membuat kepala Fira pening sesaat, tapi, Pras tetap muncul dalam pikiran Fira, Fira benar-benar bingung karna ini pertama kalinya Fira merasakan hal seperti ini dan yang lebih mengganggu pikiran Fira adalah, dia takut rasa cintanya ini dapat merusak persahabatannya dengan Pras yang sudah terjalin cukup lama, Fira selalu berucap dalam hati kalau ia tak ingin persahabatannya hancur hanya gara-gara sepotong cinta yang masih mentah
          Minggu pun berganti dan Fira telah melupakan kejadian tentang Pras dan adik kelasnya, Fira dan Pras memang pintar menutupi rasa cemburu maupun rasa canggung diantara mereka, ketika mereka berpapasan dikelas ataupun dilingkungan sekolah, dan mereka tetap terus melanjutkan kisah cinta tak terucap itu hingga waktu kelulusan SMA tiba, Pras & Fira diterima di universitas yang berbeda dan itu berarti Pras & Fira akan benar-benar berpisah setelah ini. L
          5 tahun berlalu dan gelar Dokter pun berhasil diraih Fira dengan usaha kerasnya selama 5 tahun, dia sangat senang ketika melihat namanya terpampang didaftar nama-nama dokter yang ada disalah satu Rumah sakit terkemuka di kota Yogyakarta, Dr. Fira putri aditya. namanya tertulis jelas didaftar dokter ahli penyakit dalam, di Rumah sakit itu, bagaimana dengan Pras? Nama Pras adi nugroho sekarang menjadi nama yang tak asing dalam dunia kewirausahaan, dia berhasil menjadi seorang pengusaha interior yang sukses menembus dunia ekspor-impor, lalu bagaimana dengan Dhiya, Bayu & Iman? Dhiya gagal menjadi arsitek dan beralih menjadi seorang desainer, sekarang dia sudah memiliki butiknya sendiri dikota Tuban, sedangkan Bayu, setelah 3 kali mendaftar, akhirnya dia berhasil dan diterima menjadi seorang petugas polisi di kota Lamongan, dan Iman, dia berhasil menjadi seorang pemain sepak bola yang handal di Tim sepak bola terbesar di Jawa timur.
          9 Januari 2015. Siang itu Fira, Pras, Bayu, Dhiya & Iman menerima sebuah undangan reuni untuk periode mereka yang dilaksanakan minggu depan, selembar kertas itu berhasil membuat jantung mereka berlima berdegup lebih kencang dari sebelumnya mereka berlima langsung teringat akan kisah kasih mereka selama menjadi seorang siswa SMA, dan tentunya untuk menjalin kembali silaturahmi yang sempat terputus diantara mereka berlima karna dulunya mereka terlalu sibuk untuk meraih cita-cita masing-masing, hingga lupa dengan sahabatnya satu sama lain.
          Minggu yang ditunggu pun tiba, reuni yang dilaksanakan di Hotel Mustika Tuban berlangsung cukup meriah dengan diiringi lagu-lagu yang membawa ingatan orang-orang yang hadir Flashback dengan kenangan masa SMA masing-masing, pada sore itu Fira datang dengan mengenakan hijab berwarna orange yang membalut wajah cantiknya, orange memang warna kesukaannya & warna itu menghiasi ujung kepala hingga ujung kaki Fira, mulai dari hijab gaun tas hingga sepatu semuanya ada sentuhan warna orange, sore itu Pras pun datang dengan mengenakan setelan rapi berwarna silver lengkap dengan sepatu pantofelnya, Dhiya yang datang dengan dandanan kasualnya langsung berteriak ke arah Fira dan langsung memeluk Fira untuk melepas rindu selepas 5 tahun tidak bertemu, peristiwa ini langsung membuka ingatan Fira 5 tahun lalu saat Dhiya menerima cinta Bayu,
“Fiiirraaaaaaa!!” teriak Dhiya sambil berlari ke arah Fira dan langsung memeluk Fira erat-erat
“aduh duh, Dhi lepasin, ga bisa nafas nih gue duuh” ucap Fira sambil memegang lengan Dhiya
“hehehh, iya ya maaf, abisnya gue kangen sama loe sih, 5 tahun kita ga ketemu Fir, itu rekor!” sahut Dhiya antusias
“hahahh, iya ya, 5 tahun loh, itu bener-bener rekor” jawab Fira sambil tertawa
          Ditengah-tengah perbincangan penuh rindu antara Fira dan Dhiya, Pras datang, bersamaan dengan Bayu & Iman yang ketiga-tiganya mengenakan setelan yang sangat cocok untuk mereka bertiga, 5 menit pertama, rasa canggung menerpa mereka berlima terutama antara Pras, Fira, Bayu & Dhiya namun semua itu hanya berlangsung 5 menit karna suasana canggung itu telah dilumerkan oleh Iman,
“Hei, Bay apa kabar loe, 5 tahun ga ketemu badan loe makin tegap aja,” tanya Iman
“ah, bisa aja loe, tapi emang pelatihan gue selama masa training polisi ga pernah bisa ngebuat punggung gue bungkuk sedikitpun, mana pelatih gue galaknya minta ampun, tapi It’s ok, gara-gara dia sekarang gue bisa jadi disiplin dan akhirnya jadilah gue sebagai seorang polisi yang selama ini gue cita-cita’in” jelas  Bayu dengan antusias
“kamu gimana Fir kabarnya, aku dengar-dengar kamu udah jadi dokter spesialis ahli dalam ya, selamat ya kamu udah bisa raih cita-cita kamu” ucap Pras pada Fira
“iya, makasih Pras, aku juga dengar kalo kamu udah jadi salah satu pengusaha terbesar di Jawa timur, Pras adi nugroho, aku sering nemuin nama kamu di surat kabar” jawab Fira
“Hah, Fir Pras, sejak kapan loe berdua pake panggilan aku-kamu’an kaya orang pacaran aja deh lu, apa jangan-jangan,.” Ucap Dhiya yang langsung disahut oleh Fira
“Ah, apa-apaan sih loe Dhi, enggak lah, gue sama Pras kan temen, kita sahabat kaya elo sama gue gini,” jelas Fira
“kata siapa?” tanya Pras sambil mengangkat salah satu alisnya
“Hah, apanya?” tanya Fira tanya fira dengan mengerutkan kedua alisnya
“ya, kata siapa aku sama kamu itu temenan, aku ga pernah ngerasa kalo kamu temenku kok, sedikitpun enggak,” jawab Pras dengan ekspresi muka yang tegang
“maksud kamu?” tanya Fira lagi
“iya, kamu itu ga pernah aku anggap temen sedikitpun, dari dulu malah, dari waktu kita masih SMA sampai sekarang,” jelas Pras dengan muka yang masih tegang
“emang salah aku apa sama kamu Pras,?” tanya Fira dengan mata yang mulai berembun
“Banyak! ga keitung banyaknya salah kamu ke aku” jawab Pras singkat
“maksud kamu apa sih Pras, aku pikir kita baik-baik aja selama ini, bahkan saat kita lulus SMA dulu kita sempet bercanda berlima kan? Terus letak salahku itu dimana? Kasih tau aku biar aku bisa minta maaf sama kamu,” jelas Fira dengan meneteskan setetes air mata yang sekarang mengalir dipipinya
“kamu tau kesalahanmu yang terfatal?” tanya Pras
“enggak Pras, tolong sebutin,” ucap Fira
“kamu udah buat aku jatuh hati Fira, sudah sejak 6 tahun yang lalu, dan yang lebih salahnya lagi kamu membuatku ga bisa ngungkapin rasa cintaku ini ke kamu, dan sekarang, aku ga mau kehilangan kesempatan untuk ngungkapin rasa ini ke kamu, aku sayang kamu Fira, lebih dari sekedar rasa sayang seorang teman, aku ingin menjagamu lebih dari yang lain, aku ingin membuatmu bahagia lebih dari yang lain, dan kesalahanmu yang terfatal adalah kenangan akan senyum manismu membuatku tak bisa mencintai wanita lain selain kamu,” jelas Pras dengan matanya yang mulai berembun
          Penjelasan Pras tadi cukup membuat Fira terdiam sesaat, Fira bukan tak senang akan pengakuan cinta dari Pras, ia hanya terlalu terkejut dan senang karna cinta tak terucapnya dengan Pras ternyata dirasakan juga oleh Pras sendiri
“Pras? Kamu yakin dengan apa yang baru saja kamu ucapkan,” tanya Fira dengan meneteskan kembali air matanya
“Fir, apa waktu 6 tahun itu masih kurang untuk meyakinkan perasaanku ke kamu?” tanya Pras
“Pras, kamu tau ga, kalo selama ini aku juga punya perasaan yang sama ke kamu, bahkan dengan waktu yang sama, 6 tahun” jawab Fira dengan meneteskan kembali air matanya, tapi kali ini ia tambahkan sesimpul senyuman dibibirnya
“jadi, selama ini kamu juga mencintaiku Fir,?” tanya Pras dengan meneteskan air mata yang juga ditambahkan senyuman dibibirya

          Pertanyaan Fira hanya dibalas dengan dua kali anggukan kepala Fira, namun kedua anggukan kepala Fira itu telah menjawab semua pertanyaan Pras yang selama 6 tahun ini bertanya-tanya “apakah Fira merasakan hal yang sama? Apakah Fira juga mencintaiku? Akankah Fira membalas perasaanku?” semuanya terjawab pada hari itu, dan sepotong cinta tak terucap yang dimiliki Pras & Fira akhirnya memiliki keberanian untuk saling mengungkapkan satu sama lain, dan sepotong cinta mereka akhirnya bersatu menjadi sebuah cinta yang utuh, sampai akhir hayat menjemput keduanya. 


                                                      Written By: NASA
Emm, Hai! gue Nada adinda, disini gue cuma mau, yah sekedar nulis-nulis doang sih buat ngisikekosongan waktu yang gue punya, waktu itu ada beberapa temen gue yang ga sengaja baca salah satu judul cerpen gue dan akhirnya dibaca lah cerpen gue itu, karne mereka penasaran sama ceritanya, "walaupun penasarannya cuma dikit doang sih" but, it's ok! yang penting dibaca, dan Alhamdulillah, mereka bilang tulisan gue lumayan,bahkan ada juga yang bilang SUKA! 
So, kenapa enggak gue posting aja diblog, itung-itung nge-share sedikit kemampuan nulis gue plus ngasah kemampuan itu juga dengan komentar-komentar yang Mungkin aja ada diblog ini, So, Enjoy it guys!