Sepotong
cinta tak terucap.
Semua
ini dimulai waktu pertengahan bulan agustus 2009, disebuah sekolah yang
terletak dipinggiran kota Tuban jawa timur, ada seikat persahabatan yang
terjalin antara 5 orang yang semuanya aneh-aneh, pertemanan aneh yang beranggotakan
Iman, Fira, Bayu, Dhiya dan pras ini sudah terjalin cukup lama, sekitar dua
tahun lebih, pertemuan sederhana yang tak disangka akan menjadi sebuah kisah
persahabatan yang indah ini pun terjadi diantara mereka,.
Waktu
itu pada jam istirahat kedua, seusai sholat dhuhur, mereka terbiasa bercerita
tentang hal-hal yang mungkin menurut orang lain itu tak terlalu penting untuk
dibicarakan, tapi Masa Bodo! Mereka tak pernah peduli, hingga suatu saat ada
sedikit perbedaan dalam pembicaraan mereka yang dibuka oleh Iman,
“eh, masa kita kaya gini-gini
aja sih” ucap si Iman
“maksudnya gini-gini aja”
tanya Fira “ya
gini-gini aja” jawab Iman
“ah Iman nih, kalo ngomong yg
jelas kek” gertak Dhiya penasaran
“lagian, udah tau Iman
orangnya suka jail masih aja ditanggepin, ujung-ujungnya juga dikerjain doang
loe semua” ucap bayu enteng,
“sembarangan, kali ini gue serius” sahut Iman dengan gaya sok serius
“apanya yang serius ngomong aja ga jelas, yg jelas dong biar gampang dipahami,” papar Pras
“tau nih” serentak Dhiya dan
Fira
“Oke-oke, maksud gue itu apa
kalian ga bosen, bertemen kaya gini-gini aja, kalian ga ada niatan buat
emm.. anu.. emm.. itu loh,.” Jawab Iman
dengan nada bicaranya yang agak gugup sambil malu-malu
“kan, kan, mulai ga jelasnya
kambuh tuh” sahut Fira sebal
“bukannya gitu, Cuma gini loh,
kita kan udah mau kelas 3 SMA dan ini tuh udah waktunya banget buat itu, tapi
masa iya yang lainnya udah pada gitu, kita sendiri yang belum, kan ga asik”
papar Iman
“yang gitu itu apa Iman,!!”
gertak Dhiya & Fira
“eh, dari pada pake
kode-kodean mending loe ga usah ngomong deh man, bikin kepo orang aja” jawab Pras jutek
“sekali lagi loe ngomong ga
jelas, gua kepret juga loe!” ringkas
Bayu sebal
“ eh, loe semua kan udah gede,
masa masih pada ga tau maksud gue sih” jawab iman sambil agak cemberut karna
maksud omongannya tidak ada satu pun yang dipahami oleh teman-temannya
“ya terus apa man,?” tanya
Fira
“itu loh fir, Pacaran.” jawab
Iman dengan mengecilkan volume suaranya,
Suasana pun jadi hening sejenak, kemudian,...
“Hwahahahahahahahahahh,!!”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari pertanyaan Iman, yang
dari tadi memusingkan kepala mereka semua
“ya Allah Iman, Iman, loe
ada-ada aja sih” ucap Dhiya dengan setengah tertawa
“eh man, loe udah bilang
pacar-pacaran, emangnya ada yang mau sama loe?” sahut Bayu sambil setengah
tertawa juga
“Iya juga sih, siapa ya yang
mau pacaran sama gue, gue juga belum mikir sampai sejauh itu,” jawab Iman
sambil senyum dan menggaruk-garuk kepalanya
Jawaban dan ekspresi Iman yang menjawab pertanyaan itu dengan sangat lucu,
sontak membuat tawa mereka makin pecah, dan dari pertanyaan yang asal nyeletuk
dari Iman itulah yang lama kelamaan membuat mereka satu persatu menyadari kalau
mereka memang membutuhkan seorang yang lebih dari sekedar hubungan teman, lebih
dari sekedar hubungan sahabat, mereka butuh seseorang yang dapat berbagi rasa kasih sayang atau yang lebih umumnya
seperi yang dibilang iman “kita udah waktunya untuk pacaran”
Dan orang pertama yang mendapatkan pacar diantara mereka berlima adalah
Iman, iya Iman, mereka berlima pun cukup terkejut, berlima? Iya berlima, bahkan
Iman sendiri pun terkejut dan tak percaya bahwa dialah yang menjadi orang
pertama dari mereka berlima yang merasakan cinta untuk yang pertama kali,
dengan terjadinya hal tersebut Pras, Fira & Dhiya pun makin jadi-jadinya
menggoda Iman dikelas,
“Ciee yang udah pacaran,
percaya deh Hpnya dipegang terus” goda Fira
“ah, Fir loe apaan sih,
udah-udah” jawab Iman dengan mukanya yang memerah
“Ciiee yang udah jadian sama
si Anu Pjnya mana nih, katanya temen?” goda Pras
“Anu-anu dia punya nama,
namanya Vina terus apalagi tuh PJ-PJ gua ga tau” jawab Iman ketus
“jangan ngambek dong, masa
orang yang lagi jatuh cinta mukanya asem banget gitu, ya nggak?” sahut Dhiya
“PJ itu pajak jadian O’ong
masa loe udah jadian nggak tau singkatan PJ sih, dasar kuper!” goda Pras
“Ohh, PJ itu pajak jadian,
ngobrol dong, kan kalo gini gue paham jadinya hehehh,” jawab Iman enteng
“eh, ngomong-ngomong Bayu mana
kok ga ikutan ngumpul kaya biasanya sih,” tanya Fira
“tadi gue telfon kerumahnya,
kata ibunya dia lagi sakit demam gitu” jawab Pras
“eh, jengukin yuk entar pulang
sekolah, kasian nih gue,” ucap Dhiya
“iya, gue juga kasian, berarti
entar pulang sekolah kita jengukin Bayu bareng-bareng ya” sahut Fira
“Oke deh,” jawab Pras singkat
“Tapii,” sahut Iman dengan
nada ragu-ragu
“tapi apaan man?” tanya Dhiya
“tapi gue udah ada janji sama
Vina, gue janji bakalan nonton bareng sama dia, jadi gue ga ikutan gak papa
ya,” jawab Iman dengan ekspresi muka yang biasa saja
Jawaban Iman yang enteng serta tanpa rasa bersalah karna
tidak datang menjenguk Bayu bersama mereka itu sangat membuat Dhiya, Fira dan
Pras jengkel, karna mereka pikir Iman jauh lebih mementingkan nonton bareng Vina
yang sangat tidak penting dari pada menjenguk Sahabatnya sendiri yang sedang
sakit,
“Oh, jadi sekarang kita
dinomer duakan sama loe man?” tanya Dhiya Sinis
“E-enggak gitu, t-tapi” jawab
Iman sambil agak gagap
“tapi apa?, udah jelas-jelas
loe lebih mentingkan Vina dari pada Bayu, eh Man, loe inget dong, siapa dulu yang
paling heboh waktu loe sakit, Bayu kan? Dan sekarang loe lebih mentingin orang
lain dari pada Bayu?” papar Pras dengan nada suara yang agak ditinggikan
“Udah-udah Pras, Dhi, cukup kita
bertiga aja yang jenguk Bayu, Iman mungkin bakalan jenguk Bayu sendiri lain
waktu, ya kan man?” sahut Fira dengan menahan amarahnya ke Iman
“I-iya Fir,” jawab Iman
singkat
Bel pulang pun berbunyi, tanda kalau sekolah hari ini telah
berakhir, Fira, Dhiya dan Pras pun mulai mengendarai sepeda Ontel mereka
masing-masing, beranjak pergi dari sekolah menuju kerumah Bayu untuk
menjenguknya. Dalam perjalanan menuju kerumah Bayu, Fira dan Dhiya berhenti
sejenak di toko buah untuk membeli buah kesukaan Bayu, yaitu rambutan, dan
Fira-lah yang paling mengetahui semua buah kesukaan dari masing-masing
sahabatnya itu, mulai dari Bayu yang suka dengan rambutan Dhiya yang suka
dengan Anggur, Iman yang suka dengan semangka, dan terakhir Pras, Pras sangat
suka dengan mangga, Setelah selesai membeli rambutan untuk Bayu, mereka pun
bergegas ke rumah Bayu yang letaknya tak jauh dari toko buah tadi,
“Hai Bay, gimana keadaan loe
udah mendingan kan?” tanya Dhiya
“udah lumayan kok dari pada
kemaren,” jawab Bayu lemas
“gimana kata dokter, loe sakit
apa?” tanya Fira
“ga papa kok, Cuma kecapean
aja, gue disuruh banyak istirahat.” Jawab Bayu
“cepet sembuh ya Bro, ga ada
yang ngajakin berantem, sepi juga kelas,” goda Pras
“hahahh, bisa-bisanya loe ya,
gue sakit gini bukannya dikasih motivasi apa kek biar sembuh, malah digitu’in”
jawab Bayu dengan tawa kecil dibibirnya
“lah, kan tadi juga udah
termasuk motivasi juga Bay, biar loe cepet sembuh, terus bisa ngajakin gue sama
Iman berantem kaya biasanya,” sahut Pras menggoda Bayu
“hahahh, iya ya, eh tapi Iman
mana kok ga bareng kalian kesini?” tanya Bayu
“emm ini, Iman disuruh Ibunya
langsung pulang, katanya sih mau ada acara keluarga gitu sore ini, jadi ga bisa
ikut kita jengukin loe deh, tapi tadi dia udah bilang ke kita kok kalo udah
selesai dia bakalan langsung jengukin loe,” sahut Fira dengan mata yang lari
kekanan dan kekiri
“Loh, bukannya iman tadi,”
jawab Dhiya yang langsung disahut oleh Pras
“Aa iya, dia ada acara
dirumahnya jadi ga bisa ikut, tapi dia keliatan nyesel gitu Bay ga bisa ikut
kita jengukin loe” sahut Pras
“he’em gitu” sahut Fira
singkat
“Hahahh, Iman, Iman gitu aja
nyesel, gue justru bakalan lebih nyesel lagi kalo sampai dia ga ikut acara
dirumahnya Cuma gara-gara jengukin gue” jawab Bayu enteng
Seminggu selepas mereka menjenguk Bayu pun tiba, pagi itu
indah dan damai, pagi itu Fira sedang membaca novel kesukaannya untuk yang
ke-10 kalinya sambil mendengarkan lagu kesukaannya Ariana Grande-Daydreamin’ dan pagi yang indah dan damai itupun dirusak
oleh suara nyaring Dhiya dari luar kelas yang berteriak-teriak tidak jelas
memanggil nama Fira sambil memegang Handphonenya, dan ternyata Dhiya menceritakan
kalau dia akhirnya menyusul jejak Iman, Dhiya memiliki seorang Pacar, dan yang
lebih mengejutkan Fira adalah pacar Dhiya, pacar Dhiya adalah Bayu
“Hah, Bayu! gimana ceritanya
loe bisa jadian sama Bayu Dhi?” tanya Fira penasaran
“ga tau, gue malu mau ngomong
sama loe Fir, pokonya itu waktu Bayu lagi sakit gue ga bisa tidur gue mikirin
dia terus, gue ga bisa nahan, akhirnya gue sms’in deh Bayu, lah tapi sampai
Bayu sembuh gue sama Bayu masih terus sms’an terus semalem Bayu nembak gue Fir,
gue kaget banget jantung gue dag dig dug ga jelas, terus pagi tadi Bayu nanya
lagi jawaban gue apa,” papar Dhiya dengan mukanya yang kemerahan karena malu
“terus jawaban loe apa?” tanya
Fira
“gue jawab Iya Fir,” jawab
Dhiya singkat dengan muka yang masih kemerahan
“emm gitu,” ucap Fira enteng
“yailah Fir, gue udah ngomong
panjang lebar dan loe Cuma jawab dengan emm gitu doang,” jawab Dhiya sebal
“Hahahh, enggak-enggak, gue
Cuma becanda doang Dhiya sayang, selamet ya atas jadinya loe sama Bayu gue
seneng banget kok, kan loe sama Bayu temen gue, jadi kalo loe berdua seneng, ga
ada alasan buat gue untuk ga ikut seneng bareng kalian,” papar Fira
Bulan pun berganti,
siang itu Pras, Bayu & iman sedang istirahat setelah bermain sepak bola
dilapangan sekolah, siang itu sinar matahari cukup terik hingga membuat mereka
betiga berkeringat cukup banyak hanya dengan bermain 10 menit saja. Ketika
mereka sedang istirahat, waktu itu tepat ketika Fira dan Dhiya keluar dari
perpustakaan. Pras, yang memang sejak lama memiliki perasaan yang lebih kepada
Fira, memperhatikan gadis manis itu keluar dari perpustakaan bersama Dhiya,
Pras memperhatikan Fira mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, Pras suka
segala sesuatu tentang Fira, dan yang paling disukai Pras dari dalam diri Fira
adalah ketika Fira tertawa. Pras sangat suka cara Fira tertawa, menurutnya itu
membuat Fira tampak lebih manis dan Pras akan tersenyum secara otomatis saat
Fira tertawa seakan ada kabel yang menghubungkan senyuman Fira ke bibir Pras. J Lamunan Pras tentang Fira pun pecah karna teriakan
Bayu yang memanggil nama Pras tepat ditelinga Pras
“PRRAAASSSS!!” teriak Bayu
tepat ditelinga Pras
“Wooy!!! Santai kek! Sakit nih
telinga gue!” gertak Pras sambil meniupkan udara digenggaman tangannya kemudian
ditaruhnya ke telinganya
“lagian, loe tuh ngelamunin
apaan sih, gue panggil sampe 5 kali ga ada respon. Ya, terpaksa gue ngelakuin
tindakan darurat” jawab Bayu sambil memamerkan senyum tengilnya
“Hah, 5 kali,! yang bener loe,
kok gue bisa ga denger ya,” singkat Pras dengan nada heran ke dirinya sendiri
“kalo gue liat dari kelakuan
loe sih, kayaknya loe lagi suka sama orang deh Pras” sahut Iman dengan nada sok
tau
“Ah, sok tau loe, gak-gak gue
ga lagi suka sama orang kok, lagian gue lagi fokus belajar biar cita-cita gue
buat jadi pengusaha sukses bisa gue capai” jelas Pras dengan nada yang agak gagap
diawal
“Amiinnn” sahut Bayu dan Iman,
mendukung cita-cita sahabatnya itu
Dan ditengah-tengah perbincangan Iman, Pras dan Bayu ada
dua orang adik kelas perempuan mereka datang menghampiri Pras dan salah satu
diantara mereka memberika coklat kesukaan Pras kepada Pras.
“Kak Pras?” sapa Nia, salah
satu adik kelas Pras yang memang terlihat jelas kalau dia memiliki perasaan
pada Pras
“iya” jawab Pras singkat
“aku punya ini buat kakak, ini
coklat kesukaan kakak” jelas Nia sambil menyerahkan sebuah kotak ke Pras
Pras menghela nafas kemudian
berkata,.
“Dek, maaf, aku ga bisa
terima” jawab Pras singkat
“tapi kak,” sela Nia
“dari pada kamu makai uang
kamu buat beli sesuatu kaya gini buat orang lain, mending kamu tabung uang kamu
buat keperluan kamu sendiri,” ucap Pras
Nia hanya menunduk tanpa
mengucapkan apapun,
Nia memang bukan adik kelas pertama yang memberikan hal-hal
seperti itu pada Pras, memang dilihat dari segi fisik, Pras memiliki tampang
yang menarik dan dilihat dari segi sifat Pras termasuk pribadi yang ramah dan
pandai bergaul jadi tak sedikit adik kelas maupun teman sekelas yang tertarik
dengannya, mulut ceriwis Dhiya pun memberikan kabar tentang Pras ke Fira, dan
seperti biasa Fira hanya mengomentarinya dengan berkata “emm, gitu” dengan
sedikit sumringan kecil dibibirnya, Fira memang selalu seperti itu jika
mendapat kabar tentang Pras yang mendapat kado-kado dari orang yang
menyukainya, Fira hanya akan mengambil buku novel atau apapun yang ada
didepannya untuk menutupi rasa cemburunya, Cemburu? Ya, Fira cemburu jika ada
siapapun wanita yang mendekati Pras, Posesif? Ya, Fira mungkin termasuk wanita
yang posesif karna dia selalu beranggapan seorang wanita dan pria tidak bisa
berteman terlalu dekat, kenapa tidak? Karna menurut Fira jika ada seorang wanita
berteman terlalu dekat dengan pria maka salah satu diantara mereka pasti merasakan
rasa nyaman, rasa ingin menjaga dan takut kehilangan dan lama-kelamaan rasa
cintapun mulai tumbuh dari salah satu diantara mereka maupun keduanya, dan Fira
sedang berada dalam posisi tersebut dia merasakan rasa nyaman dengan Pras, dia
takut kehilangan Pras, dan lama-kelamaan tanpa disadari Fira telah jatuh hati
pada Pras.
Berulang kali Fira ingin menyangkal rasa cintanya pada Pras
mulai dengan fokus membaca 3 buku tebal dalam sehari dan mengerjakan puluhan
soal-soal matematika hingga cukup membuat kepala Fira pening sesaat, tapi, Pras
tetap muncul dalam pikiran Fira, Fira benar-benar bingung karna ini pertama
kalinya Fira merasakan hal seperti ini dan yang lebih mengganggu pikiran Fira
adalah, dia takut rasa cintanya ini dapat merusak persahabatannya dengan Pras
yang sudah terjalin cukup lama, Fira selalu berucap dalam hati kalau ia tak
ingin persahabatannya hancur hanya gara-gara sepotong cinta yang masih mentah
Minggu pun berganti dan Fira telah melupakan kejadian
tentang Pras dan adik kelasnya, Fira dan Pras memang pintar menutupi rasa cemburu
maupun rasa canggung diantara mereka, ketika mereka berpapasan dikelas ataupun
dilingkungan sekolah, dan mereka tetap terus melanjutkan kisah cinta tak terucap itu hingga waktu
kelulusan SMA tiba, Pras & Fira diterima di universitas yang berbeda dan itu
berarti Pras & Fira akan benar-benar berpisah setelah ini. L
5 tahun berlalu dan gelar Dokter pun berhasil diraih Fira
dengan usaha kerasnya selama 5 tahun, dia sangat senang ketika melihat namanya
terpampang didaftar nama-nama dokter yang ada disalah satu Rumah sakit
terkemuka di kota Yogyakarta, Dr. Fira putri aditya. namanya tertulis jelas
didaftar dokter ahli penyakit dalam, di Rumah sakit itu, bagaimana dengan Pras?
Nama Pras adi nugroho sekarang menjadi nama yang tak asing dalam dunia
kewirausahaan, dia berhasil menjadi seorang pengusaha interior yang sukses
menembus dunia ekspor-impor, lalu bagaimana dengan Dhiya, Bayu & Iman?
Dhiya gagal menjadi arsitek dan beralih menjadi seorang desainer, sekarang dia
sudah memiliki butiknya sendiri dikota Tuban, sedangkan Bayu, setelah 3 kali
mendaftar, akhirnya dia berhasil dan diterima menjadi seorang petugas polisi di
kota Lamongan, dan Iman, dia berhasil menjadi seorang pemain sepak bola yang
handal di Tim sepak bola terbesar di Jawa timur.
9 Januari 2015. Siang itu Fira, Pras, Bayu, Dhiya &
Iman menerima sebuah undangan reuni untuk periode mereka yang dilaksanakan
minggu depan, selembar kertas itu berhasil membuat jantung mereka berlima
berdegup lebih kencang dari sebelumnya mereka berlima langsung teringat akan
kisah kasih mereka selama menjadi seorang siswa SMA, dan tentunya untuk menjalin
kembali silaturahmi yang sempat terputus diantara mereka berlima karna dulunya
mereka terlalu sibuk untuk meraih cita-cita masing-masing, hingga lupa dengan
sahabatnya satu sama lain.
Minggu yang ditunggu pun tiba, reuni yang dilaksanakan di
Hotel Mustika Tuban berlangsung cukup meriah dengan diiringi lagu-lagu yang
membawa ingatan orang-orang yang hadir Flashback
dengan kenangan masa SMA masing-masing, pada sore itu Fira datang dengan
mengenakan hijab berwarna orange yang
membalut wajah cantiknya, orange memang
warna kesukaannya & warna itu menghiasi ujung kepala hingga ujung kaki
Fira, mulai dari hijab gaun tas hingga sepatu semuanya ada sentuhan warna orange, sore itu Pras pun datang dengan
mengenakan setelan rapi berwarna silver lengkap dengan sepatu pantofelnya,
Dhiya yang datang dengan dandanan kasualnya langsung berteriak ke arah Fira dan
langsung memeluk Fira untuk melepas rindu selepas 5 tahun tidak bertemu,
peristiwa ini langsung membuka ingatan Fira 5 tahun lalu saat Dhiya menerima
cinta Bayu,
“Fiiirraaaaaaa!!” teriak Dhiya
sambil berlari ke arah Fira dan langsung memeluk Fira erat-erat
“aduh duh, Dhi lepasin, ga
bisa nafas nih gue duuh” ucap Fira sambil memegang lengan Dhiya
“hehehh, iya ya maaf, abisnya
gue kangen sama loe sih, 5 tahun kita ga ketemu Fir, itu rekor!” sahut Dhiya
antusias
“hahahh, iya ya, 5 tahun loh,
itu bener-bener rekor” jawab Fira sambil tertawa
Ditengah-tengah perbincangan penuh rindu antara Fira dan
Dhiya, Pras datang, bersamaan dengan Bayu & Iman yang ketiga-tiganya
mengenakan setelan yang sangat cocok untuk mereka bertiga, 5 menit pertama,
rasa canggung menerpa mereka berlima terutama antara Pras, Fira, Bayu &
Dhiya namun semua itu hanya berlangsung 5 menit karna suasana canggung itu telah
dilumerkan oleh Iman,
“Hei, Bay apa kabar loe, 5
tahun ga ketemu badan loe makin tegap aja,” tanya Iman
“ah, bisa aja loe, tapi emang
pelatihan gue selama masa training polisi ga pernah bisa ngebuat punggung gue
bungkuk sedikitpun, mana pelatih gue galaknya minta ampun, tapi It’s ok,
gara-gara dia sekarang gue bisa jadi disiplin dan akhirnya jadilah gue sebagai
seorang polisi yang selama ini gue cita-cita’in” jelas Bayu dengan antusias
“kamu gimana Fir kabarnya, aku
dengar-dengar kamu udah jadi dokter spesialis ahli dalam ya, selamat ya kamu
udah bisa raih cita-cita kamu” ucap Pras pada Fira
“iya, makasih Pras, aku juga
dengar kalo kamu udah jadi salah satu pengusaha terbesar di Jawa timur, Pras
adi nugroho, aku sering nemuin nama kamu di surat kabar” jawab Fira
“Hah, Fir Pras, sejak kapan
loe berdua pake panggilan aku-kamu’an kaya orang pacaran aja deh lu, apa
jangan-jangan,.” Ucap Dhiya yang langsung disahut oleh Fira
“Ah, apa-apaan sih loe Dhi,
enggak lah, gue sama Pras kan temen, kita sahabat kaya elo sama gue gini,”
jelas Fira
“kata siapa?” tanya Pras
sambil mengangkat salah satu alisnya
“Hah, apanya?” tanya Fira
tanya fira dengan mengerutkan kedua alisnya
“ya, kata siapa aku sama kamu
itu temenan, aku ga pernah ngerasa kalo kamu temenku kok, sedikitpun enggak,”
jawab Pras dengan ekspresi muka yang tegang
“maksud kamu?” tanya Fira lagi
“iya, kamu itu ga pernah aku
anggap temen sedikitpun, dari dulu malah, dari waktu kita masih SMA sampai
sekarang,” jelas Pras dengan muka yang masih tegang
“emang salah aku apa sama kamu
Pras,?” tanya Fira dengan mata yang mulai berembun
“Banyak! ga keitung banyaknya
salah kamu ke aku” jawab Pras singkat
“maksud kamu apa sih Pras, aku
pikir kita baik-baik aja selama ini, bahkan saat kita lulus SMA dulu kita
sempet bercanda berlima kan? Terus letak salahku itu dimana? Kasih tau aku biar
aku bisa minta maaf sama kamu,” jelas Fira dengan meneteskan setetes air mata
yang sekarang mengalir dipipinya
“kamu tau kesalahanmu yang
terfatal?” tanya Pras
“enggak Pras, tolong sebutin,”
ucap Fira
“kamu udah buat aku jatuh hati
Fira, sudah sejak 6 tahun yang lalu, dan yang lebih salahnya lagi kamu
membuatku ga bisa ngungkapin rasa cintaku ini ke kamu, dan sekarang, aku ga mau
kehilangan kesempatan untuk ngungkapin rasa ini ke kamu, aku sayang kamu Fira,
lebih dari sekedar rasa sayang seorang teman, aku ingin menjagamu lebih dari
yang lain, aku ingin membuatmu bahagia lebih dari yang lain, dan kesalahanmu
yang terfatal adalah kenangan akan senyum manismu membuatku tak bisa mencintai wanita
lain selain kamu,” jelas Pras dengan matanya yang mulai berembun
Penjelasan Pras tadi cukup membuat Fira terdiam sesaat,
Fira bukan tak senang akan pengakuan cinta dari Pras, ia hanya terlalu terkejut
dan senang karna cinta tak terucapnya dengan
Pras ternyata dirasakan juga oleh Pras sendiri
“Pras? Kamu yakin dengan apa
yang baru saja kamu ucapkan,” tanya Fira dengan meneteskan kembali air matanya
“Fir, apa waktu 6 tahun itu
masih kurang untuk meyakinkan perasaanku ke kamu?” tanya Pras
“Pras, kamu tau ga, kalo
selama ini aku juga punya perasaan yang sama ke kamu, bahkan dengan waktu yang
sama, 6 tahun” jawab Fira dengan meneteskan kembali air matanya, tapi kali ini
ia tambahkan sesimpul senyuman dibibirnya
“jadi, selama ini kamu juga
mencintaiku Fir,?” tanya Pras dengan meneteskan air mata yang juga ditambahkan
senyuman dibibirya
Pertanyaan Fira hanya dibalas dengan dua kali anggukan
kepala Fira, namun kedua anggukan kepala Fira itu telah menjawab semua
pertanyaan Pras yang selama 6 tahun ini bertanya-tanya “apakah Fira merasakan
hal yang sama? Apakah Fira juga mencintaiku? Akankah Fira membalas perasaanku?”
semuanya terjawab pada hari itu, dan sepotong
cinta tak terucap yang dimiliki Pras & Fira akhirnya memiliki
keberanian untuk saling mengungkapkan satu sama lain, dan sepotong cinta mereka akhirnya bersatu menjadi sebuah cinta yang utuh, sampai akhir
hayat menjemput keduanya.
Written By: NASA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar